Ratusan Siswa Manggarai Diduga Keracunan MBG

Nusa Tenggara Timur kembali diguncang insiden pangan yang memprihatinkan. Program unggulan pemerintah, Makan Bergizi Gratis (MBG), yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah, justru diduga menjadi penyebab jatuhnya ratusan korban di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Barat.

Gelombang pertama terjadi pada akhir Januari 2026 di Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat. Sebanyak 132 siswa dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD hingga SMA, dilarikan ke Puskesmas Golowelu. Mereka mengeluhkan gejala mual, muntah hebat, nyeri perut, dan diare.

Siswa Diduga Keracunan MBG Insiden serupa kembali terjadi hanya beberapa pekan

Kali ini, pada pertengahan Februari 2026, giliran warga Kecamatan Satarmese, Kabupaten Manggarai, yang diduga menjadi korban. Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai mencatat setidaknya 42 kasus dugaan keracunan MBG, dengan rincian 39 kasus dari Puskesmas Ponggeok dan tiga kasus dari Puskesmas Iteng. Yang lebih memprihatinkan, korban tidak hanya pelajar, tetapi juga merambah ke kelompok rentan lainnya seperti anak balita, guru, orang tua, bahkan ibu hamil.

Menyikapi kejadian pertama di Manggarai Barat, pihak berwenang bergerak cepat. Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di Kuwus Barat Kolang langsung ditutup sementara. Penutupan ini dilakukan atas perintah koordinator wilayah SPPG untuk memudahkan observasi internal dari Badan Gizi Nasional (BGN) guna memastikan kepatuhan terhadap protokol keamanan pangan

Baca Juga : Remaja Sukabumi Ditemukan Tewas Tergantung

Siswa Diduga Keracunan MBG Di Kabupaten Manggarai, Dinas Kesehatan setempat juga bergerak cepat dengan melakukan investigasi

epidemiologi. Tim kesehatan di terjunkan untuk melakukan penelusuran kasus secara aktif di lapangan serta mengambil sampel makanan dan spesimen pasien untuk di uji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti keracunan. Pihak puskesmas di wilayah terdampak juga telah di siagakan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya jumlah pasien.

Rangkaian kejadian ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program MBG di lapangan, khususnya terkait aspek keamanan pangan. Koordinator Wilayah SPPG Kabupaten Manggarai Barat menyatakan bahwa penghentian operasional dapur di lakukan hingga seluruh protokol keamanan pangan dapat di pastikan di patuhi.

Kronologi Keracunan di Dua Wilayah yang Berbeda

Gelombang pertama melanda Kecamatan Kuwus, Kabupaten Manggarai Barat pada akhir Januari 2026, di mana sebanyak 132 siswa dari berbagai jenjang pendidikan di larikan ke Puskesmas Golowelu setelah mengeluhkan gejala mual, muntah hebat, dan diare. Menu MBG yang disantap saat itu adalah nasi putih, tempe krispi, telur kukus sambalado, sayur taoge, labu, sawi hijau, dan buah semangka yang di sediakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kuwus Barat.

Langkah Cepat Penanganan dan Investigasi oleh Instansi Terkait

Merespons kejadian pertama di Manggarai Barat, pihak berwenang langsung mengambil tindakan tegas dengan menutup sementara Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau Dapur MBG di Kuwus Barat Kolang. Penutupan ini di lakukan atas perintah koordinator wilayah SPPG untuk memudahkan observasi internal dari Badan Gizi Nasional (BGN) guna memastikan kepatuhan terhadap protokol keamanan pangan

Evaluasi dan Tantangan Keamanan Pangan dalam Program MBG

Rangkaian kejadian dugaan keracunan ini menjadi alarm keras bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di lapangan, khususnya terkait aspek keamanan pangan yang harus menjadi prioritas utama. Koordinator Wilayah

Publik kini menanti hasil uji laboratorium dari sampel makanan yang diambil oleh Dinkes Manggarai Barat dan Manggarai untuk mengetahui penyebab pasti dari dugaan keracunan massal ini, sekaligus mengevaluasi secara menyeluruh standar operasional penyediaan makanan bergizi bagi anak bangsa.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *