Mahasiswa UUI Ajari Penyintas Banjir Buat Antinyamuk. Kelompok mahasiswa dari Universitas Ubudiyah Indonesia (UUI) melakukan aksi nyata dalam membantu masyarakat terdampak bencana dengan memberikan pelatihan pembuatan antinyamuk alami. Inovasi ini menyasar para penyintas banjir di Aceh yang saat ini sedang menghadapi risiko serangan penyakit pascabencana. Genangan air yang tersisa di area pemukiman sering kali menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti dan Anopheles, sehingga inisiatif ini menjadi langkah preventif yang sangat krusial.

Para mahasiswa secara aktif mendatangi posko-posko pengungsian untuk mendemonstrasikan cara mengolah bahan-bahan dapur menjadi produk pelindung diri yang efektif. Program pengabdian masyarakat ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan fisik, tetapi juga mentransfer ilmu pengetahuan agar warga lebih mandiri dalam menjaga kesehatan keluarga. Melalui pemanfaatan bahan organik, para penyintas dapat memperoleh perlindungan kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya besar di tengah keterbatasan ekonomi pascabencana.

Mahasiswa UUI Inovasi Bahan Alami sebagai Solusi Kesehatan Pengungsi

Langkah yang di inisiasi oleh para mahasiswa UUI ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap kondisi sanitasi di tenda-tenda pengungsian yang kian hari menunjukkan penurunan kualitas. Terutama ketika penggunaan obat antinyamuk berbahan kimia secara terus-menerus di ruang tertutup justru berpotensi menimbulkan dampak kesehatan baru. Seperti gangguan pernapasan pada kelompok rentan, khususnya balita dan lansia. Sehingga mendorong mereka untuk mencari solusi yang lebih aman, ramah lingkungan. Dan berkelanjutan demi menjaga kesehatan para pengungsi secara menyeluruh.

Pemanfaatan Serai Wangi dan Kulit Jeruk

Dalam pelatihan tersebut. Mahasiswa mengajarkan teknik ekstraksi sederhana menggunakan bahan utama serai wangi dan kulit jeruk yang sangat mudah di temukan. Mereka menjelaskan bahwa kandungan sitronela pada serai memiliki aroma yang sangat tidak di sukai oleh nyamuk. Namun tetap aman bagi indra penciuman manusia. Warga belajar cara memotong, merebus, dan mencampur bahan-bahan tersebut dengan sedikit minyak pembawa (carrier oil) agar dapat langsung di oleskan ke kulit. Transisi dari penggunaan bahan kimia ke bahan alami ini mendapatkan sambutan positif karena aromanya yang segar mampu memberikan efek relaksasi bagi warga yang sedang stres akibat bencana.

Pembuatan Lilin dan Spray Antinyamuk Sederhana

Selain produk oles, tim mahasiswa UUI juga melatih warga membuat lilin aromaterapi dan cairan semprot (spray) antinyamuk untuk ruangan. Mahasiswa menunjukkan bahwa limbah minyak goreng yang sudah di bersihkan dapat di olah kembali menjadi lilin antinyamuk dengan menambahkan ekstrak serai. Teknik ini secara langsung membantu mengurangi limbah di lokasi pengungsian sekaligus menciptakan suasana yang lebih nyaman di malam hari. Cairan semprot yang di hasilkan juga berfungsi ganda sebagai pengharum ruangan alami yang mampu mengusir lalat di area dapur umum. Aktivitas ini terbukti mampu membangkitkan produktivitas warga di sela-sela waktu tunggu mereka di posko.

Baca Juga : Kapolri Salurkan Bantuan untuk Korban Bencana Sumut

Mahasiswa UUI Edukasi Sanitasi dan Mitigasi Penyakit Pascabencana

Program mahasiswa UUI tidak berhenti pada pembuatan produk saja, melainkan juga mencakup edukasi mendalam mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan pascabanjir. Mahasiswa secara aktif mengajak warga untuk mempraktikkan gerakan 3M (Menguras, Menutup, Mengubur) secara konsisten di sekitar tenda darurat.

Pencegahan Demam Berdarah dan Malaria

Mahasiswa memberikan penjelasan mengenai siklus hidup nyamuk yang semakin cepat di daerah beriklim lembap seperti lokasi bekas banjir. Mereka mendorong warga untuk memasang kelambu dan tidak menggantung pakaian terlalu banyak di dalam tenda karena dapat menjadi sarang nyamuk. Melalui diskusi interaktif. Mahasiswa menjawab berbagai kekhawatiran warga mengenai gejala awal demam berdarah agar mereka segera mencari bantuan medis jika menemukannya. Edukasi yang lincah dan komunikatif ini membuat informasi medis yang rumit menjadi lebih mudah di terima oleh masyarakat awam. Kesadaran kolektif ini menjadi benteng utama dalam mencegah terjadinya kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular di wilayah tersebut.

Peran Mahasiswa UUI dalam Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan

Universitas Ubudiyah Indonesia berkomitmen untuk terus mengirimkan tenaga ahli muda mereka ke titik-titik rawan bencana sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi. Rektorat mendukung penuh penggunaan teknologi tepat guna yang lahir dari kreativitas mahasiswa untuk membantu masyarakat kecil. Program ini membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul dalam teori di bangku perkuliahan. Tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di lapangan. Kerja sama antara akademisi dan warga lokal menciptakan sinergi yang kuat dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana alam di masa depan.

Harapan Masa Depan bagi Kemandirian Warga

Aksi mahasiswa UUI ini di harapkan menjadi pemantik bagi organisasi kepemudaan lainnya untuk turut serta memberikan solusi praktis bagi korban bencana. Keterampilan baru yang warga miliki saat ini dapat menjadi modal usaha kecil-kecilan ketika mereka kembali ke rumah masing-masing nantinya.

Pihak universitas berencana untuk terus memantau dampak dari pelatihan ini dan memberikan bantuan alat produksi sederhana jika warga ingin mengembangkan produk antinyamuk tersebut secara komersial. Dengan adanya keterlibatan aktif mahasiswa, beban pemerintah dalam menangani masalah kesehatan di daerah bencana dapat sedikit teringan. Transformasi dari pengungsi yang pasif menjadi penyintas yang berdaya merupakan pencapaian terbesar dari program ini. Semangat berbagi ilmu ini menunjukkan bahwa kepedulian sosial yang di padukan dengan inovasi mampu menciptakan perubahan nyata bagi kemanusiaan di Aceh.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *