Konflik Timur Tengah Kembali Yerusalem โ Kembali dunia di kejutkan oleh memburuknya situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. Setelah beberapa bulan mengalami masa tenang yang rapuh, konflik antara faksi Palestina dan pasukan Israel memasuki babak baru dengan eskalasi kekerasan yang terjadi sejak Minggu malam hingga Selasa pagi Kobaran api peperangan kembali menyala, di picu oleh insiden di kompleks Masjid Al-Aqsa serta serangan roket massal dari Jalur Gaza yang kemudian di balas dengan rentetan serangan udara intensif oleh militer Israel.
Pemicu utama eskalasi kali ini adalah operasi pasukan Israel di kota Jenin, Tepi Barat, yang kemudian di susul dengan pelarangan warga Palestina di bawah usia 50 tahun untuk memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur. Langkah tersebut memicu kemarahan massa, yang kemudian berujung pada bentrokan di pintu gerbang Kota Tua. Tak lama setelah itu, pada Senin dini hari, kelompok militan Palestina di Jalur Gaza meluncurkan lebih dari 150 roket ke arah pemukiman Israel selatan, termasuk kota Ashkelon dan Sderot. Sebagian besar roket berhasil dicegat oleh sistem Iron Dome, namun beberapa di antaranya berhasil menembus pertahanan, menyebabkan kepanikan massal dan melukai sedikitnya tujuh warga sipil Israel.
Konflik Timur Tengah Kembali Sebagai balasan, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu.
dalam pernyataan darurat di Tel Aviv, menyatakan bahwa “Israel akan merespons dengan kekuatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.” Dalam waktu kurang dari dua jam setelah serangan roket, Angkatan Udara Israel melancarkan Operasi “Panah Pembalasan” yang menargetkan puluhan pos komando, gudang amunisi, serta rumah-rumah petinggi kelompok Jihad
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, dalam sebuah pernyataan mendesak, menyerukan “de-eskalasi segera” dan mengingatkan bahwa “kawasan ini berada di jurang perang total yang akan membawa konsekuensi kemanusiaan yang mengerikan.” Dewan Keamanan PBB pun menggelar sidang darurat tertutup pada Selasa dini hari, namun hingga berita ini di turunkan, belum ada resolusi mengikat yang di hasilkan karena perbedaan sikap antara Amerika Serikat yang cenderung mendukung hak Israel untuk membela diri, serta Rusia dan China yang mendesak kecaman terhadap tindakan militer di wilayah pendudukan.
Baca Juga : Inggris Jatuhkan Sanksi ke 10 Pejabat Iran Usai Kerusuhan
Dampak konflik ini langsung terasa di sektor energi global.
Harga minyak mentah dunia melonjak hingga 4,2% dalam perdagangan Asia pada Selasa pagi, menembus level 95 dolar AS per barel. Analis dari Goldman Sachs memperingatkan bahwa jika konflik ini melibatkan Hizbullah di Lebanon atau Iran secara langsung, harga minyak berpotensi menembus 120 dolar AS. Kekhawatiran akan terganggunya jalur distribusi di Selat Hormuz kembali membayangi pasar keuangan global, menyebabkan saham-saham di bursa Asia dan Eropa melemah signifikan.
Di tengah panasnya konflik, upaya di plomatik mulai di galakkan. Menteri Luar Negeri Mesir dan Qatar berupaya menjadi mediator dengan mengadakan pembicaraan telepon dengan kedua belah pihak. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri dengan tegas mengecam kekerasan terhadap warga sipil dan mendesak PBB untuk segera mengirimkan misi kemanusiaan ke Jalur Gaza. “Tidak ada kata terlambat bagi komunitas internasional untuk menghentikan siklus kekerasan ini. Warga sipil selalu menjadi korban utama,” demikian bunyi pernyataan resmi Kemenlu RI.
Di lapangan, situasi terus memanas. Jaringan listrik di sebagian besar Jalur
Gaza padam total setelah pembangkit listrik satu-satunya kehabisan bahan bakar akibat blokade yang di perketat. Kelompok Hamas sendiri, yang selama ini menguasai Gaza, tampaknya berusaha menjaga jarak dari eskalasi kali ini, meskipun faksi-faksi lain seperti Jihad Islam dan Brigade Al-Aqsa terus meluncurkan roket. Hal ini mengindi kasikan adanya perpecahan internal di antara faksi Palestina mengenai strategi menghadapi Israel saat ini.
Konflik Timur Tengah Kembali Para pengungsi Palestina mulai berdatangan ke sekolah-sekolah PBB di Gaza utara.
Islam Palestina. Serangan udara ini di laporkan menewaskan sedikitnya 23 warga Palestina, termasuk tiga komandan lapangan, serta melukai lebih dari 80 orang lainnya. Rumah sakit di Gaza, seperti Al-Shifa, kewalahan menangani lonjakan korban jiwa karena kekurangan pasokan listrik dan obat-obatan akibat blokade yang telah berlangsung lama.
Mereka membawa anak-anak dan barang seadanya berusaha menyelamatkan diri.
dari serangan udara yang terus mengguncang kota dari segala penjuru. “Kami tidak punya tempat berlindung. Bom jatuh di mana-mana. Kami lelah dengan perang ini,” ujar Umm Muhammad, seorang ibu dari tiga anak yang kini tinggal di tenda darurat. Dengan tidak adanya sinyal gencatan senjata dalam 24 jam ke depan, dunia kembali menatap Timur Tengah dengan ngeri.
Konflik yang sudah berlangsung puluhan tahun ini kembali membuktikan bahwa perdamaian abadi di kawasan tersebut masih sangat sulit terwujud. Sementara roket dan pesawat tempur masih saling memburu di langit malam, nyawa-nyawa tak berdosa kembali melayang, menambah panjang daftar tragedi kemanusiaan di tanah suci tersebut. Sampai berita ini di turunkan, belum ada kabar terbaru mengenai korban jiwa lebih lanjut, namun di pastikan warga sipil di kedua sisi kembali hidup dalam ketakutan yang tiada henti.


Tinggalkan Balasan