Ma’ruf Amin Bahas KH Wahab Hasbullah Warisan Visioner untuk Abad Kedua NU
Di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, umat Islam Indonesia, khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU), diajak untuk kembali menatap ke belakang dan menarik pelajaran dari para pendiri bangsa. Seruan ini mengemuka dengan kuat dalam acara Bedah Buku KH Abdul Wahab Hasbullah dan Sarasehan Alim Ulama yang digelar di Jakarta pada pertengahan Februari 2026. Tokoh yang menyuarakannya bukanlah orang sembarangan, melainkan Wakil Presiden ke-13 RI, KH
Dalam kesempatan tersebut, KH. Ma’ruf Amin mengupas tuntas sosok KH. Bukan sekadar mengenang sejarah, Ma’ruf Amin menekankan relevansi pola pikir dan perjuangan Mbah Wahab untuk menjawab tantangan organisasi di abad kedua NU. Lantas, apa yang membuat Mbah Wahab istimewa di mata Ma’ruf Amin?
Ma’ruf Amin Bahas KH Wahab Ulama, Negarawan, dan Politisi dalam Satu Figur
KH. Ma’ruf Amin membuka wawasannya dengan pernyataan yang tegas: Mbah Wahab adalah tokoh langka. “Ya, Kiai Wahab itu saya kira tokoh langka, karena beliau itu kiai, saya katakan tadi, dia ulama, alim, negarawan, politisi, seorang organisator yang unggul,” ujar Ma’ruf di hadapan para hadirin. Pernyataan ini merangkum spektrum kehebatan Mbah Wahab yang tidak hanya ahli dalam ilmu agama, tetapi juga piawai dalam membaca peta politik dan membangun organisasi untuk kemaslahatan umat dan bangsa.
Salah satu bukti keulamaan dan nasionalisme Mbah Wahab yang abadi adalah karya monumentalnya, syair Ya Lal Wathan. Kutipan “Hubbul Wathan minal Iman” (Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman) yang melekat erat di benak warga NU adalah gubahan beliau. Bagi Ma’ruf Amin, lagu ini bukan sekadar syair, melainkan manifesto perjuangan yang memadukan spiritualitas dengan semangat kebangsaan.
Baca Juga : Teknik Filtering Iklan Popunder Berkualitas
Ma’ruf Amin Bahas KH Wahab Memaknai Warisan Tashwirul Afkar dan Nahdlatul Wathan
Ma’ruf Amin menyoroti bagaimana Mbah Wahab memiliki cara pandang yang visioner dan responsif terhadap zamannya. Di tengah tekanan penjajahan Belanda, Mbah Wahab justru berani memelopori forum di skusi bernama Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) pada tahun 1914. Forum ini menjadi ruang pertemuan para ulama dan cendekiawan dari berbagai latar belakang, termasuk Muhammadiyah
Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang dirikan pada 1916 menjadi wadah nyata pergerakan di bidang pendidikan dan pembinaan kader. Inisiatif-inisiatif ini, menurut Ma’ruf, adalah bukti nyata keberanian dan kecerdasan Mbah Wahab dalam merespons situasi.
Aktualisasi Pemikiran untuk Menghadapi Fitnah Zaman
Lebih dari sekadar cerita masa lalu, KH. Ma’ruf Amin secara eksplisit mengajak generasi penerus untuk mengaktualisasikan pola pikir Mbah Wahab. Memasuki abad kedua NU, tantangan yang di hadapi justru semakin berat dan kompleks di banding masa penjajahan dulu. Karena itu, ia menegaskan, “pola pikir yang di kembangkan oleh Hadratussyaikh Kiai Wahab Hasbullah ini bisa menjadi rujukan kita”.
Apa yang di maksud dengan pola pikir Mbah Wahab? Yaitu cara berpikir yang tidak kaku, mampu membedah
masalah dengan kaidah ushul fiqih yang luwes namun tetap berpijak pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah. Ma’ruf Amin memberikan contoh sederhana namun gamblang: ketika ada seorang awam yang bingung karena ingin melibatkan anaknya yang kedelapan dalam kurban sapi
Kesimpulan Menghidupkan Kembali Spirit Mbah Wahab
Dakhir bedah buku, putri almarhum, Nyai Hj. Hizbiyah Rochim, menyampaikan rasa harunya. Bagi keluarga, upaya mengkaji pemikiran Mbah Wahab secara ilmiah adalah cara penting untuk menginternalisasi sejarah, bahwa beragama dan mencintai tanah air adalah dua hal yang selaras.
KH. Ma’ruf Amin pun menaruh harapan besar pada buku yang di tulis KH. Abdul Mun’im DZ tersebut. Ia berharap karya ini dapat “melahirkan kembali ‘Wahab Hasbullah-Wahab Hasbullah’ di abad kedua Nahdlatul Ulama”. Bukan untuk menduplikasi sosoknya, melainkan untuk membangkitkan generasi baru yang memiliki semangat, visi kebangsaan, dan keluwesan berpikir sebagaimana di teladankan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah. Dengan begitu, NU dan Indonesia dapat terus kokoh menghadapi gelombang perubahan zaman.


Tinggalkan Balasan